“Banyak orang ingin menjadi penulis, tapi tak pernah mengerti esensi menulis itu apa[1], banyak orang juga ingin menjadi penyair, tapi tak pernah mengerti inti dari syair itu apa[2], banyak orang mengaku seniman, tapi tak pernah tahu dan mengerti hukum-hukum yang berlaku dalam seni itu seperti apa?[3] Mereka hanya berbicara, sesuai dengan pikiran yang mereka anut, dan mengindahkan orang lain. Padahal kretivitas yang hidup ialah kreativitas yang dibangun atas dasar kreativitas-kreativitas yang lain. Anehnya, egoisme malah dikedepankan, kehendak diri mnjadi tuntutan pribadi. Merugilah!”
Dalam pengembaraannya, seni merupakan alat transportasi bagi manusia untuk menuju pada kearifan hidup, kemualiaan tindakan, dan kemandirian berpikir. Seni adalah bagian dari kebiasaan manusia dalam bermetafora untuk menjadi kreatif. Berhubung manusia adalah bagian dari budaya, maka seni bisa digolongkan sebagai gambaran dari perkembangan budaya manusia. Seni juga merupakan alat pencurahan manusia berekspresi secara bebas, tanpa pembatas. Maka dari itu, seni harus dipahami bukan hanya secara eksistensinya saja, melainkan esensinya pula. Agar tanpa salah kaprah dalam menanggapi (apa itu seni), karena banyak bermunculan pikiran-pikiran yang menurutnya benar (baca:tolol) padahal melenceng dari koridor dan hukum seni yang berlaku sekarang.
