0 Men-SENI-kan DIRI

Label:

Oleh: Aswab Mahasin

“Banyak orang ingin menjadi penulis, tapi tak pernah mengerti esensi menulis  itu apa[1], banyak orang juga ingin menjadi penyair, tapi tak pernah mengerti inti dari syair itu apa[2], banyak orang mengaku seniman, tapi tak pernah tahu dan mengerti hukum-hukum yang berlaku dalam seni itu seperti apa?[3] Mereka hanya berbicara, sesuai dengan pikiran yang mereka anut, dan mengindahkan orang lain. Padahal kretivitas yang hidup ialah kreativitas yang dibangun atas dasar kreativitas-kreativitas yang lain. Anehnya, egoisme malah dikedepankan, kehendak diri mnjadi tuntutan pribadi. Merugilah!”

Dalam pengembaraannya, seni merupakan alat transportasi bagi manusia untuk menuju pada kearifan hidup, kemualiaan tindakan, dan kemandirian berpikir. Seni adalah bagian dari kebiasaan manusia dalam bermetafora untuk menjadi kreatif. Berhubung manusia adalah bagian dari budaya, maka seni bisa digolongkan sebagai gambaran dari perkembangan budaya manusia. Seni juga merupakan alat pencurahan manusia berekspresi secara bebas, tanpa pembatas. Maka dari itu, seni harus dipahami bukan hanya secara eksistensinya saja, melainkan esensinya pula. Agar tanpa salah kaprah dalam menanggapi (apa itu seni), karena banyak bermunculan pikiran-pikiran yang menurutnya benar (baca:tolol) padahal melenceng dari koridor dan hukum seni yang berlaku sekarang.

0 CINTA YANG MENCINTA

Label:

Oleh: Aswab Mahasin

“Jika kamu menyukai seseorang karna dia mahir atas sesuatu Itu bukan Cinta tapi Kagum,
Jika Kamu menyukai seseorang karna dia cantik dan cakep Itu bukan Cinta tapi Nafsu,
Jika Kamu menyukai seseorang karna dia kaya Itu bukan Cinta tapi Matre,
Jika Kamu menyukai seseorang karna dia baik Itu bukan Cinta tapi rasa Trima Kasih, dan
Jika Kamu menyukai seseorang padahal tidak tahu kenapa Maka itulah cinta yang sesungguhnya.” 

Cinta adalah ungkapan emosi jiwa, yang terselebung dalam hati manusia. Di mana ada rasa kasih sayang yang mengitari pribadi manusia. Ungkapan cinta merupakan bentuk naluri manusia, Tuhan telah memasang perangkat dasar yang bernama hati sebagai penggerak rasa cinta manusia. Dalam filosofi cinta—teringiang hembusan warisan kebaikan, segala perasaan baik selalu mengintip, bahkan melongok dalam koridor kehidupan manusia.

Pendapat lainnya menyerukan, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. Cinta juga bisa dikatakan sebuah seni ekspresi, ketika manusia mampu memanfaatkan cintanya, maka manusia akan menjadi manusia yang unggul. Manusia yang dapat mendewakan kebersamaan, merupakan taman sari dari ruang lingkup hubungan sosial yang harmonis, romantis, dan saling memberi. Jika hubungan antara satu dengan yang lainnya sejajar dan seimbang—akan melahirkan mutualisme dalam berkomunikasi. Fungsi-fungsi kehidupan pun akan bergerak sesuai alur yang ada.

0 SEKEDAR REFLEKSI DIRI

Label:

Oleh: Aswab Mahasin


"Hidup ini memang baru bisa dipahami kalau dijalani sampai tingkatnya yang setinggi mungkin, dan bukan dijadikan sekedar pelajaran teori mengenai apa yang boleh dan dilarang dikerjakan. Seperti pedasnya cabe yang tidak akan pernah bisa dijelaskan secara verbal sampai kapan pun, kecuali dengan menyantapnya."

Hati merupakan salah satu perangkat untuk kita “mengenal” identitas, hati juga berkaitan erat dengan kenyataan bahwa manusia mempunyai “kesadaran”. Untuk mengerti hal ini perlu kita bedakan antara pengenalan dan kesadaran. Kita mengenal, bila kita melihat, mendengar atau merasa sesuatu. Tapi pengenalan ini tidak merupakan monopoli manusia. Seekor binatang pun menjadi bisa mendengar bunyi atau mencium bau busuk dan karena itu bisa mengenal. Malah ada binatang yang dalam hal pengenalan inderawi lebih unggul dari pada manusia. Tapi hanya manusia yang mempunyai kesadaran. Dengan kesadaran kita maksudkan kesanggupan manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan karena itu berefleksi tentang dirinya. Manusia bukan saja melihat pohon di kejauhan sana, tetapi ia menyadari juga bahwa dialah yang melihatnya.

0 Kemana dan dimana? Bagaimana dan Mengapa? Siapa dan Seperti Apa?

Label:

Oleh: Aswab Mahasin

“Aku memahami karena aku percaya”. Ditengah diskusi pelik mengenai Tuhan, pemahaman, dan kepercayaan. Gejolak sahut-menyahut pemikiran terus mereka lontarkan; di waktu dzuhur selepas kuliah, semua teman-teman ku terperanjat kaget, mendengar celoteh ku yang seakan-akan berpihak pada kaum-kaum theis. Memang, kebanyakan dari mereka menganut paham pemikiran yang ekstrem, mereka lebih condong dengan gaya pemikiran Bang Nitzche. Gejolak-gejolak keseriusan sempat menyergap di raut wajah mereka. “God is dead” adalah penjelmaan paham yang mengitari pikiran mereka. Argument Nitzche yang selalu dianggap sebagai pendapat gila, dan tidak bermoral itu dijadikan sebagai tolok ukur paham yang memberikan kesegaran. Akkkh… bukan hanya itu, ternyata Paklek Karl Mark-pun ikut menodai gaya berpikir, yang menyatakan bahwa agama sebagai candu.

“Aku tidak akan menyembah Tuhan yang takut dengan pikiran manusia.”

Mendengar deretan. kalimat itu, gejolak diri membuncah, tenyata sebegitu gawatnya aktivitas pikiran jika difungsikan tidak pada posisinya. Tapi kenapa harus ada pikiran? Jika pikiran hanya akan menjadi sumber kesesatan. Namun, aku tetap kembali pada bentuk pemikiran ku yang pertama, pikiran diciptakan bukan untuk diobok-obok pada kadar yang tak terbatas, melainkan pada tahap-tahap tertentu. Agar pemahaman pikiran akan menjadi fungsi yang cocok. Ketika pemahaman yang terlahir dari kepercayaan pada Tuhan, maka segala sesuatunya akan disandarkan kepada Sang Pencipta.

0 PSIKOLOGI MENULIS

Label:

Oleh: Aswab Mahasin


Dalam kajian populer, menulis adalah bagian dari ekspresi jiwa—yaitu, ada sebuah pengungkapan perasaan diri yang bersumber dari hati dan pikiran manusia. Apa yang diketahui manusia, apa yang dirasakan manusia, dan apa yang menjadi alur gaya berpikir manusia—mencoba diterapkan pada bagian-bagian huruf yang mereka susun. Secara sederhana, proses pembentukan menulis, jika dipahami dari teori pragmatisme ala william james merupakan sebuah gerakan atau bentuk tindakan berpikir manusia. Pragmatisme sendiri lebih  menekankan kepada metode dan pendirian daripada suatu filsafat.
Dalam konsep kebenaran pragmatisme, ada kalimat william james yang cukup padat dalam menggambarkannya, “Kebenaran terjadi pada ide/gagasan.” Nah, di lihat dari cuplikan singkat tersebut—ada sebuah kebetulan yang memadai jika diadaptasi pada gerakan menulis, ialah ketika ekspresi menulis merupakan sebuah ungkapan jujur (kebenaran diri). Maka kekuatan kebenaran “menulis” yang mengalir dari ide yang murni, atau gagasan yang segar, akan menjadi sebuah manfaat dari setiap tulisan. Karena kebenaran yang diyakini pada suatu gagasan. Dalam hal ini, kebenaran sebagai sesuatu yang dinamis. Kebenaran yang terlahir dari sebuah gagasan bukanlah dikatakan “benar”, melainkan “menjadi benar”.